Minggu, 23 Agustus 2009

Workshop Lengkeng Dataran Rendah

Sebagai salah satu wujud pelaksanaan mandat Balitjestro dalam mengawal pengembangan Lengkeng Dataran Rendah (LDR) di Indonesia, pada tanggal 5 Juli 2008 yang lalu telah diadakan Workshop Lengkeng Dataran Rendah bertempat di Aula Balitjestro. Workshop Lengkeng Dataran Rendah tersebut merupakan salah satu rangkaian acara dalam Field Day Balitjestro 2008 yang berlangsung dari tanggal 4 hingga 6 Juli 2008.

Hadir sebagai narasumber pada acara tersebut adalah Ir. Sutopo, MS (peneliti lengkeng dari Balitjestro), Prakoso Heryono dan Budi Prayogo (keduanya merupakan praktisi dan penangkar bibit di Demak dan Semarang). Acara yang dibuka oleh Ir. Nana Laksana Ranu MS -Direktur Perbenihan dan Sarana Produksi Departemen Pertanian- dihadiri oleh peserta dari berbagai instansi pemerintah, swasta dan masyarakat umum yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Tren pengembangan lengkeng dataran rendah dimulai dari hadirnya lengkeng introduksi semacam Diamond River, Pingpong dan Itoh yang pertama kali dikembangkan oleh penangkar bibit di Jawa Tengah. Informasi yang menarik tentang berbagai kelebihan lengkeng dataran rendah di berbagai media memacu antusiasme masyarakat umum untuk mengembangkan lengkeng tersebut. Kelebihan lengkeng dataran rendah antara lain: genjah, adatasi luas, perawatan relatif mudah dan dapat berbuah 2-3 kali dalam setahun.

Workshop Lengkeng Dataran Rendah membahas mengenai potensi pengembangan lengkeng dataran rendah, prospek usaha taninya, serta teknik pembibitan dan budidayanya.

Seperti diketahui, sebagian besar wilayah Indonesia terletak di daerah dataran rendah, sehingga peluang untuk mengembangkan lengkeng dataran rendah masih terbuka lebar. Namun untuk pengembangan lebih lanjut disarankan untuk melakukan kajian yang lebih mendalam karena peta potensi yang diberikan masih merupakan gambaran kasar.

Prospek usaha tani lengkeng dataran rendah sendiri cukup menarik. Buah lengkeng diminati oleh hampir seluruh kalangan masyrakat sehingga pasar yang dimiliki cukup baik. Sampai saat ini impor buah lengkeng cenderung meningkat, oleh karena itu usaha tani lengkeng dataran rendah di dalam negeri diharapkan mampu mensubstitusi permintaan buah lengkeng impor sehingga dapat menghemat devisa negara.

Untuk mendukung pengembangan lengkeng dataran rendah di Indonesia, tentunya dibutuhkan bibit yang bermutu dan terjamin asal-usulnya. Karena itu pemilihan pohon induk dan penangkaran bibit perlu diperhatikan. Menurut Budi Prayogo, pohon induk Pingpong miliknya adalah yang tertua karena meski berusia diatas 17 tahun namun masih berproduksi sangat baik walaupun cabang-cabangnya sering dipotong untuk dijadikan entres. Kestabilan hasil merupakan salah satu ciri pohon induk yang baik.

Teknik pembibitan lengkeng yang umum dilakukan adalah dengan cangkok, sambung pucuk dan penyusuan. Meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinan dikembangkan dari biji, namun dengan tujuan sedikit berbeda yaitu mendapatkan variasi tanaman. Terbukti dari adanya Suko dan Buto yang merupakan keturunan Pingpong dari biji yang memiliki penampilan berbeda dari induknya. Suko dan Buto memiliki ukuran daun lebih besar dan tebal. Buah Suko memiliki pelat di tengah buah dan buah Buto ukurannya lebih besar dari Pingpong. Adanya variasi tersebut tentunya dapat memperkaya keragaman genetik lengkeng di Indonesia yang nantinya dapat menjadi materi perakitan varietas unggul lengkeng.

1 komentar:

  1. kalau bisa harus lebih detail lagi..sukur2 tentan budidayanya mas...

    BalasHapus